Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Poin Poin Penting

--- Di Surabaya, ada SD yang salah satu ustadznya mengajarkan ayat qital (ayat perang) kepada siswanya. Mereka diminta menghafal ayat-ayat pedang ini. Salah satu wali murid tahu, akhirnya setelah rapat komite, mereka meminta guru tahfidz ini diberhentikan. Usulan diterima. Bagi saya, mengajarkan Al-Qur'an kepada anak bisa dimulai dari ayat-ayat akhlak, ayat kasih sayang, dan ayat-ayat kauniah. Pengenalan anak terhadap ayat-ayat keras adalah pola khas brain washing alas teroris. Ini proses pembibitannya, kelak diunduh beberapa tahun setelahnya. Jangan heran jika takfirisme mulai menjangkiti guru-guru level SD.
--- Kalau anda nggak mau dikafir-kafirkan sama buah hati kita, maka yang paling aman, sekolahkan anak di lembaga yang sudah jelas afiliasinya. Kalau nahdliyyin ya disekolahkan di lembaga milik NU, demikian juga dengan warga Muhammadiyah, dan ormas lain. Selain mempersiapkan kaderisasi, ini juga menjadi bagian internalisasi ajaran. Selebihnya seleksi gurunya juga jelas.
--- Karena bapak ibu semua ini orang NU, santri, ya sudah anaknya cukup disekolahkan di yayasan ini. Ikuti jenjangnya. Dari TK hingga MA. Nah, kalau sudah lulus MA baru dikuliahkan di INAIFAS Kencong. Okeeeee? Hahaha.
--- Orang-orang kayak kita ini pengennya sederhana. Nggak muluk-muluk. Urip tentrem, mendidik anak, memondokkan anak, menikahkan anak, lalu ketika kita sudah mati, ada anak cucu yang senantiasa mendoakan kita di alam kubur. Lha kalau sejak awal salah menyekolahkan anak, ya bablas, kita mati nggak ada yang bakal mendoakan. Anak yang kita banggakan cuek. Di alam kubur kita ngaplo. Nggak ada yang mendoakan, nggak ada yang menziarahi.
--- Kunci keberhasilan anak sekolah/mondok itu ada tiga. Wong tuwone mempeng, anake mempeng, lan gurune mempeng. Artinya, orangtua, anak, dan gurunya sama sama tekun sesuai dengan "tugas" masing-masing. Ini petunjuk KH. Anwar Manshur, Rais Syuriah PWNU Jawa Timur.
--- Orangtua tekun, artinya ya bekerja mencari nafkah untuk biaya anak mondok. Waktunya membayar syahriah/bulanan ya jangan telat. Usahakan tepat waktu, biar anak juga kerasan dan nyaman mondok dan gurunya senantiasa ikhlas mendidik. Orangtua juga harus tekun tirakat untuk anak. Bisa melalui puasa sunnah yang ditujukan untuk keberhasilan anak ketika mondok, sedekah atas nama anak, maupun mencari wasilah keberkahan anak dalam menuntut ilmu. Apa itu? Sowan kepada orang soleh. Minta doa kepada mereka. Contohnya ayah Imam Al-Ghazali dan ayah KH. Djazuli Utsman, pendiri PP. al-Falah, Ploso, Kediri.
--- Ayah Imam al-Ghazali hanya orang biasa. Tapi beliau mencintai orang saleh dan para ulama. Beliau sering mengajak anak-anaknya sowan kepada mereka, menjamu mereka, dan meminta mereka mendoakan putra-putranya. Kelak, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali dan Ahmad, saudaranya, menjadi ulama jempolan. Demikian pula Pak Utsman, ayah Kiai Djazuli. Beliau hanya pejabat kecil, menjadi naib, tapi sering meminta nasehat dan doa kepada Kiai Ma'ruf, Kedunglo, Kediri. Kalau ada ulama lewat, beliau mempersilahkannya mampir ke rumahnya dan menjamunya dengan baik. Ini potret orangtua yag keren. Mendekati orang soleh agar anak cucunya punya kualitas seperti mereka. Allah mengabulkannya.
--- Orangtua juga harus ikhlas jika anaknya dididik. Jangan sampai protes terus-menerus karena nggak tega dengan pola pendidikan di pesantren. Biarkan anak ditempa karakternya, akhlaknya, kemandiriannya di pesantren. Biarkan anak belajar tawadlu: kerjabakti (roan) membangun gedung pondok bersama kawan-kawannya. Jangan protes, kok mirip kerja rodi? Tidak, ini adalah cara agar santri merasa memiliki ikatan emosional dengan tempatnya mondok, sebab dia juga menjadi bagian dari tim pembangunnya. Biarkan anak belajar merendahkan hati dengan cara remeh: menata sandal gurunya, misalnya. Biarkan, sebab ini bagian dari pendidikan karakter ala pesantren.
--- Soal menata sandal guru, saya jadi ingat sebuah kisah yang ditulis oleh ‘Allamah Habib Zain bin Sumaith dalam karyanya, "Manhajus Sawi". Ceritanya, ketika ingin memperkokoh mentalitas sebagai calon “pelayan umat” bagi dua putranya, al-Amin dan Al-Ma’mun, Harun Ar-Rasyid menyuruh mereka berguru kepada Imam al-Kisa-iy, pakar nahwu dan pengajar qira’ah sab’ah. Kedua remaja calon raja ini mula-mula dilatih untuk berlomba meraih sandal Imam al-Kisa-iy dan memakaikannya kepada beliau. Karena berebut sandal ini, sang guru hanya tersenyum sambil memerintahkan mereka berdua agar masing-masing memegang satu terompah supaya adil. Mungkin inilah di antara asal usul tradisi berebut menata sandal guru yang lazim di pesantren.
--- Kalau mau memamitkan anak kepada guru, jangan sampai ada kata "boyongan dari pondok". Pakai kalimat yang lebih halus dan elegan, bahwa anak akan melanjutkan pendidikan/lanjut mondok di tempat lain. Berguru ke kiai lain. Metode sederhana ini sungguh baik apabila ditanamkan orangtua yang punya anak sedang mondok. Bahwa, selepas mereka lulus, mereka tetaplah seorang santri yang memiliki relasi akademis dan koneksi batiniah dengan guru-gurunya. Setidaknya, cara ini bisa meminimalisir pudarnya karakter santri apabila mereka sudah lulus dari pesentren tempatnya mondok. Sebab, selain ridlo orangtua, yang menentukan keberkahan ilmu sang anak adalah ridlo sang guru.
--- Faktor kedua, santri/murid. Sebagaimana petunjuk dalam Ta'limul Muta'allim, bahwa hendaknya para santri senantiasa melakukan mudzakarah (forum saling mengingatkan), munadharah (forum saling mengadu pandangan) dan mutharahah (diskusi). Ketiga hal ini bisa menjadi parameter kegigihan seorang santri ketika mondok.
--- Santri, biasanya kalau waktu mondok pengennya cepet khataman dan lulus. Seolah pengen bebas. Tapi, biasanya, usai lulusan, mereka bakal kangen suanana pondok dengan segala suka dukanya.
---- Jadi guru serba repot. Kalau murid berprestasi, orangtua menepuk dada. Bangga. Mengklaim jika anak pintar itu berkat jasa dirinya. Jasa guru dilupakan. Sebaliknya, kalau murid nakal, yang disalahkan gurunya. Dianggap tidak becus mendidik anaknya. Orangtua begini bakal komplen ke guru anaknya. Jadi ya harus bercermin juga, mustahil bayangan lurus jika kayunya saja bengkok. Demikian kata Imam Al-Ghazali mengibaratkan.
---- Faktor terakhir, guru. Selain tadris, guru juga harus menguasai tarbiyah dan ta'dib. Tadris menitikberatkan pada pengajaran praktis, sesuai silabus. Tarbiyah mengarahkan siswa didik agar "terdidik", sedangkan ta'dib pada proses pembentukan karakteristik. Secara ringkas, menurut KH. Hasyim Asy'ari dalam Adabul Alim wal Muta'allim, hendaknya guru mencintai anak didiknya sebagaimana mencintai dirinya serta mengajar dengan metode yang mudah dipahami oleh muridnya.
Wallahu A'lam Bisshawab
----
Beberapa poin yang saya sampaikan dalam acara Wisuda Purna Siswa Yayasan Baharuddin al-Halim (PP. Miftahul Huda), Sumbersari, Mayangan, Gumukmas, Jember, Senin, 13 Syawal 1440 H/17 Juni 2019. Terimakasih Gus Imam Bukhori


do not forget to visit https://imtiyaz-publishers.blogspot.com/ http://www.penerbitimtiyaz.com/ http://hilyah-mutiaralisan.blogspot.com http://languagehome.blogspot.com/ http://tokorahad-banjarmasin.blogspot.com/

follow dan like https://web.facebook.com/Hilyahnur/ dan jangan lupa subscribe youtube "Hilyah"
Hilyah.id
Hilyah.id https://hilyah.id

Post a Comment for "Poin Poin Penting "