Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Makna Halal bi Halal, by Rijal Mumazziq Zionis

Halal Bi Halal ini bagian dari ijtihad kultural ulama Indonesia. Konon, dirintis secara nasional oleh KH. A. Wahab Chasbullah sebagai pendobrak kebekuan komunikasi antar elit politik di akhir 1948-an. Rekonsiliasi yang dilakukan dengan cara kultural ini kemudian menjadi tradisi yang menasional.
Halal Bi Halal memang berasal dari istilah Arab, tapi justru tidak kita temui di kawasan Arab. Adanya di Indonesia saja. Saya menduga, istilah halal bihalal ini dinukil dari istilah falyatahallalhu (فَلْيَتَحَلَّلْهُ) atau mintalah kehalalan (minta maaf) kepada saudaranya, sebagaimana yang tertera dalam sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ ِلأَخِيْهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ ِلأَخِيْهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيْهِ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ (رواه البخاري)
"Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa pernah mendzalimi saudaranya, maka hendaknya ia minta kehalalannya (minta maaf). Sebab di sana (akhirat) tidak ada dinar dan dirham (untuk menebus kesalahan). Sebelum amal kebaikannya diambil dan diberikan kepada saudaranya yang didzalimi tersebut. Apabila orang yang dzalim itu tidak memiliki amal kebaikan, maka amal keburukan saudaranya akan ditimpakan kepadanya". (HR. Bukhari)
Inilah cerdiknya para ulama kita. Ajaran mulia seperti maaf memaafkan ditradisikan secara massif hingga menjadi salah satu unsur perekat dalam relasi persaudaraan: Islamiyyah, Wathaniyah, maupun Basyariyah.
Di sisi lain, tradisi halal bihalal ini juga bisa menumbuhkan semangat kekeluargaan dengan maraknya reuni Bani atau keluarga besar. Himpunan Bani ini tidak mengarah pada ashobiyah sebagaimana mengakar kuat dalam tradisi Arab (yang sifatnya politis-primordialistik) melainkan pada konsep menghimpun "tulang belulang yang berserak" agar ikatan keluarga semakin baik dan tidak tercerai berai. Dalam istilah khusus, keluarga dikumpulkan agar tidak "kepaten obor" alias kehilangan identitas kekeluargaan.
Meminjam istilah Prof. Dr. KH. Tholchah Hasan, yang membagi 3 kategori memahami Islam: doktriner/dogmatik, historis dan kultural, maka bisa disimpulkan Halal Bihalal adalah sarana kultural dalam mempraktekkan ajaran dogmatik berupa saling memaafkan yang diawali secara historis pada tahun 1948 dan terus berlangsung hingga kini.
Berbahagialah mereka yang mentradisikan halal bihalal. Sebab, ini juga merupakan sarana mempertahankan kerukunan sebuah bangsa yang majemuk seperti Indonesia.
----
Di antara poin yang insyaAllah akan saya sampaikan besok di acara Reuni Alumni SMA Wijaya Putra Surabaya tahun 1988 di Hotel Grand Surabaya, Ahad, 12 Syawal 1440 H/ 16 Juni 2019.


follow dan like https://web.facebook.com/Hilyahnur/ dan jangan lupa subscribe youtube "Hilyah"
Hilyah.id
Hilyah.id https://hilyah.id

Post a Comment for "Makna Halal bi Halal, by Rijal Mumazziq Zionis"